Cincha Lawra, Petjoek dan Sumpah Pemuda
Apa ? Cincha Lawra udah basi, bahkan kalah pamor sama iklan Roncar ? Peduli amat, karena saya menulis blog bukan berdasar tren sesaat hahahaha ….. Adalah Cincha Lawra yang melintas di pikiran saya ketika malam ini iseng-iseng membaca ulang bukunya Prof. Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis. Kebetulan pas buka pas halaman yang membahas bahasa petjoek. Apakah bahasa petjoek itu ? Bagi yang belum tau, bahasa petjoek adalah bahasa yang lahir akibat percampuran bahasa Belanda dengan bahasa pribumi (bisa bahasa Jawa, Melayu atau Cina) yang sering dipergunakan oleh anak-anak Indo dan anak-anak dari golongan masyarakat terpandang saat itu. Nah, tentu pembaca bisa mengendus hubungan antara Cincha Lawra dan bahasa petjoek.Sebagai orang bodoh, saya dengan gegabah mengklasifikan bahasa yang sering meluncur dari bibir tipisnya sebagai bahasa petjoek jenis paling mutakhir (mungkin petjoek ver 2.0 hehehe …). Masih kurang percaya coba simak contoh berikut ini (masih dikutip dari buku Kebudayaan Indis):
“Hallo Lien, jij fan waar ?”
(“Halo Lien, kamu dari mana ?”)
“Wah, jij, ‘toe hoe toh ? Ya fan school tierlek”
(“Wah, kamu itu bagaimana toh ? Dari sekolah tentunya”)
“Lho kok natierlek”
(“Lho kok tentunya”)
“Ja natierlek, iki lho mijn tas”
(“Ya tentunya, ini lho tasku”)
Dari contoh di atas bisa dengan mudah ditelusuri pengaruh bahasa jawa yang menyusup ke dalam pembicaraan bahasa Belanda yang waktu itu identik dengan bahasa ‘tinggi’. Jika diterjemahkan dalam bahasa ala Cincha Lawra mungkin akan jadi seperti ini :
“Hello Lien, you dari mana ?”
“Wah, kamu, please deh ? Ya from school of course”
“Lha kok of course”
“Ya of course dong, liat aja my bag”
Oke, jika bahasa ala Cincha Lawra sudah menuai kehebohan yang sangat di jagat blog, wait until you see this (lho kok ikut ber-petjoek ria ?)
Dalam bahasa Belanda sekolahan, air soda diterjemahkan sebagai mineraalwater, sementara dalam bahasa petjoek, air soda diterjemahkan sebagai water eropees. Orang yang terbiasa berbahasa Belanda yang baik dan benar tentu akan bingung tak berujung, ternyata usut punya usut water eropees adalah terjemahan letterlijk terhadap lema banyu landa alias air soda dalam bahasa Jawa.
Sementara itu saya jadi ingat juga waktu jaman ABG di Solo dulu, radio-radio dengan segmen pendengar remaja banyak juga penyiarnya yang berbicara dengan bahasa semi-petjoek. Saya sebut dengan semi-petjoek karena sebenarnya bahasa yang digunakan masih Bahasa Indonesia (tentunya bukan yang baik dan benar tapi versi lu-gue) tapi dengan pengucapan yang agak-agak pelo alias celat ala Belanda kumpeni yang sering nongol di film-film perjuangan made in Indonesia (kecuali Tjoet Nja’ Dhien bikinan Eros Djarot). Sungguh suatu kebetulan (trend yang berulang ?) ketika bahasa ‘keren’ ini kembali popular di jagat hiburan.
Lha terus hubungannya apa sama Sumpah Pemuda ? Ya terlintas juga di pikiran bahwa Oktober tahun ini Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun.
Kami, pemoeda pemoedi Indonesia, mendjoendjoeng tinggi bahasa persatoean
Bahasa Indonesia
Labels: bahasa, Cincha Lawra, petjoek, sejarah
