« Home | Buku-buku yang …………. » | Iklan Minjak Ramboet » | Pindahan » | Tampilan Baru » | Air » | First Posting » | Billboard » | Traffic Light » | Ditinggal-istri-syndrome » | RS Kadipolo »

Kata yang Hilang dan Bahasa yang (Kian) Asing

Anda yang kebetulan bisa ber-cas-cis-cus dalam bahasa Jawa apakah tahu arti kata dluwang, gendul, poan dan tesmak ? Meski tanpa survei statistik, insting saya mengatakan bahwa kurang dari 68 % urbanis-urbanis van Java yang beredar di metropolitan Jakarta yang tahu arti kata-kata 'aneh' tersebut. Keempat kata itu hanya contoh kecil seberapa jauh bahasa Jawa telah ditinggalkan oleh pemakainya.
Murid-murid istri saya dulu (waktu masih mengajar di Solo) pun kemampuan basa krama-nya sungguh berantakan. Cuma sebagian kecil yang bisa, sisanya cuma bisa ber-basa ngoko. Fenomena ini sungguh tidak saya sesali, karena waktu kita mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan berarti tinggal tunggu waktu untuk bahasa-bahasa daerah itu untuk masuk liang kubur. Tapi sialnya, kemampuan berbahasa Indonesia kita juga tidak menampakkan kemajuan yang positif. Pengin contoh ? Lihat tata bahasa blog ini, hehehe ...
Padahal dik Pipit sudah menyatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Lha kalo bahasa Indonesia kita berantakan bin semrawut apa kita langsung bisa di-cap sebagai bangsa yang berantakan bin semrawut ? Apa jangan-jangan memang benar sinyalemen Hericz bahwa bahasa Indonesia itu tidak cool ? Tak kurang Pramudya, lewat tetralogi Pulau Buru-nya yang terkenal itu, pernah melontarkan pendapat bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa yang lemah, terlalu banyak menyerap unsur-unsur bahasa dari luar.
Oya, saya jadi ingat Bapak Sepuh Pembangunan kita yang suka sekali dengan kata 'daripada' dan 'menyuksesken' sampai-sampai disindir Emha Ainun Nadjib (dalam kumpulan kolomnya) sebagai bahasa Indonesia krama inggil.

hallo! terimakasih sudah menengok rumah saya :)

bahasa indonesia itu super cool. memang masih sedikit kosa katanya, tapi saya percaya suatu saat nanti akan banyak sekali kosa kata kita, tanpa harus kehilangan ciri kedaerahannya, meskipun itu ditemukan dalam tulisan ilmiah sekalipun (lagi berdoa nih saya :-)

kalo kebanyakan kita sih, ngomong bahasa indonesia dengan baek dan bener malah rata-rata dilirik aneh.
Serasa geek gitu..

sedih lihat bahasa sendiri malah makin ga karuan, temenĀ² bule saya yang bisa bahasa kita juga bingung...

Terima kasih kunjungannya, mas :)

kunduran truk bhs indonesia-ne opo mas?

moeda sekali itoe poen, ketabra prahoto dari belakang poen....

"toler". anda tahu? :D
saya suka minum teh gendul supaya gendal-gendul.

kalo soal "ken" yang diucapken harto, saya masih menoleransi, karena itu dialek.

soal "daripada"? katanya sih untuk menyatakan perbandingan, sepadan dengan "ketimbang" (jawa) -- tapi bahasa melayu lama, termasuk malaysia, masih memakai "daripade" sebagai padanan "of" :)

saya heran, bapak saya bisa berbahasa jawa lengkap, baca + tulis aksaranya, bisa berbahasa indonesia dengan genah, dan bisa bahasa lebih dari satu bahasa asing.

yaks! kebetulan saya barusan nulis soal bahasa di blog anyar saya.

"toler". anda tahu? :D
saya suka minum teh gendul supaya gendal-gendul.

kalo soal "ken" yang diucapken harto, saya masih menoleransi, karena itu dialek.

soal "daripada"? katanya sih untuk menyatakan perbandingan, sepadan dengan "ketimbang" (jawa) -- tapi bahasa melayu lama, termasuk malaysia, masih memakai "daripade" sebagai padanan "of" :)

saya heran, bapak saya bisa berbahasa jawa lengkap, baca + tulis aksaranya, bisa berbahasa indonesia dengan genah, dan bisa bahasa lebih dari satu bahasa asing.

yaks! kebetulan saya barusan nulis soal bahasa di blog anyar saya.

ini sih bukan silly thoughts, clever!

barangkali bangsa kita masih mencari-cari jati diri yang telah hilang entah kemana. sampe2 bahasa sendiri pun masih mencari-cari bentuk.

repotnya, bahasa tidak bisa mengacung-acungkan bambu runcing kepada pendukung imperialisme bahasa. maka ya, beginilah. :D

*menyimak*

Saya malah tidak bisa berbahasa daerah dengan fasih. Kedua orang tua berasal dari suku yang berbeda, dan tinggal bukan di daerah asal mereka, jadi anaknya pun dididik dalam bahasa Indonesia.

Menurut orang tua saya, ini untuk menjaga keadilan. Kalau saya bisa berbahasa daerah ibu tapi tidak bisa berbahasa daerah bapak saya kan tidak adil. :)

Weleh,

kang, semangkin hebat saja andika main tul-menul (write! and write)
Bukankah anak2 abg kita sekarang juga makin bingung dan repot dengan kaidah?

teman lama di kota buaya

dari manakah anda dapat angka 68%?

Kalau memerlukan jasa di bidang travel seperti tiket pesawat, hotel voucher, tour dll silahkan hubungi saya

RATNA
SKY MIDAS TOUR AND TRAVEL
JL. ADHYAKSA RAYA 3 B
LEBAK BULUS JAKARTA 12440
PH. 021 766 7677
FAX. 021 766 1546
HP. 0815 8831648

iya bener pak memang sekarang basa jawa banyak kosakata yang jarang sekali digunakan, bahkan di desa sekalipun. Anak-anak sekarang lebih banyak diajarkan bahasa Indonesia dan Inggris, atau bahkan lebih senang bermain game daripada dijarkan tata krama basa jawa, padahal sangat tepat lo untuk menjadi media pembelajaran andap ashor bagi bangsa kita yang mulai kehilangan malu.

basa indonesianya tuku lombok rongkilo apa ? hahaha


Hot Trends Today

Post a Comment

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.