19 June 2006

Kata yang Hilang dan Bahasa yang (Kian) Asing

Anda yang kebetulan bisa ber-cas-cis-cus dalam bahasa Jawa apakah tahu arti kata dluwang, gendul, poan dan tesmak ? Meski tanpa survei statistik, insting saya mengatakan bahwa kurang dari 68 % urbanis-urbanis van Java yang beredar di metropolitan Jakarta yang tahu arti kata-kata 'aneh' tersebut. Keempat kata itu hanya contoh kecil seberapa jauh bahasa Jawa telah ditinggalkan oleh pemakainya.
Murid-murid istri saya dulu (waktu masih mengajar di Solo) pun kemampuan basa krama-nya sungguh berantakan. Cuma sebagian kecil yang bisa, sisanya cuma bisa ber-basa ngoko. Fenomena ini sungguh tidak saya sesali, karena waktu kita mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan berarti tinggal tunggu waktu untuk bahasa-bahasa daerah itu untuk masuk liang kubur. Tapi sialnya, kemampuan berbahasa Indonesia kita juga tidak menampakkan kemajuan yang positif. Pengin contoh ? Lihat tata bahasa blog ini, hehehe ...
Padahal dik Pipit sudah menyatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Lha kalo bahasa Indonesia kita berantakan bin semrawut apa kita langsung bisa di-cap sebagai bangsa yang berantakan bin semrawut ? Apa jangan-jangan memang benar sinyalemen Hericz bahwa bahasa Indonesia itu tidak cool ? Tak kurang Pramudya, lewat tetralogi Pulau Buru-nya yang terkenal itu, pernah melontarkan pendapat bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa yang lemah, terlalu banyak menyerap unsur-unsur bahasa dari luar.
Oya, saya jadi ingat Bapak Sepuh Pembangunan kita yang suka sekali dengan kata 'daripada' dan 'menyuksesken' sampai-sampai disindir Emha Ainun Nadjib (dalam kumpulan kolomnya) sebagai bahasa Indonesia krama inggil.

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.