30 May 2006

Buku-buku yang ………….

Mungkin agak berlebihan jika diberi judul ‘Buku-buku yang Merubah Hidup Saya’, soalnya nanti yang mesti dibahas malah justru buku-buku model ‘Seismic Data Processing’-nya Yilmaz atau ‘Introduction to Seismic Inversion’-nya Russell. Sudah tidak familiar dan pasti disangka snob pula. Repot. Padahal, sebagai pengumpul buku (dengan cara membeli, meminjam dan meminjam tapi nggak dikembaliin), yang ingin dibahas di sini adalah buku-buku bacaan ringan bin enteng tapi mendalam (hehehe, model pengklasifikasian yang agak aneh) dan yang penting relatif mudah didapat di pasaran. Ya intinya ingin berbagi pendapat dengan para pembaca blog saya ini (kalo ada). Jadi inilah daftar buku-buku yang .......... pokoknya gue banget lah :

Berbohong dengan Statistik, Darrell Huff
Buku ini datang pada saat yang tepat. Ketika hampir semua stasiun televisi ramai-ramai memenuhi siarannya dengan hasil jajak pendapat, polling sms, quick count dll. Belum lagi iklan-iklannya yang sering juga didekorasi dengan ‘hasil penelitian laboratorium’, ‘test medis’ dan tetek bengek lain yang terkait dengan angka-angka statistik, grafik-grafik (baik yang menarik maupun tidak) dan analisa-analisa dari what so called pakar yang pada akhirnya dapat menggiring pemirsa awam pada satu pilihan mayoritas.
Buku ini ditulis dengan gaya bahasa ilmiah tapi mudah dicerna pembacanya (setidaknya oleh saya) disertai dengan contoh-contoh yang mendukung untuk ‘menelanjangi’ kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh kandidat peserta pemilu, tim suksesnya, produsen barang tertentu maupun pengiklannya dengan menyalahgunakan metoda statistik. Lewat buku ini dibukalah mata kita agar supaya tidak mudah terpukau oleh ‘silau’ angka rata-rata, persentase dan grafik-grafik yang penuh tipuan mata. Salah satu hal penting di sini adalah penentuan sampel, yang akan diukur secara statistik, yang dari sononya sudah bias. Jadi dengan model sampel yang seperti itu, hasilnya tentu akan jadi sangat mudah ditebak. Itu baru satu hal yang dibahas, masih banyak hal-hal lain yang menarik yang dibahas dalam buku ini. Dan oya, terjemahan untuk buku lumayan bagus dan familiar. Sudah penasaran ? Sepertinya buku ini masih banyak beredar di toko-toko buku besar, jadi masih relatif mudah untuk dicari.

Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, Soe Hok Gie,
Buku ini pertama kali saya baca tahun 2001 (hasil minjem dari seorang teman kost), tapi baru bisa saya dapatkan di pasaran tahun 2005, setelah heboh film Gie yang berbuntut pada penerbitan ulang hampir semua buku-bukunya. Jadi buku yang saya dapatkan ini adalah cetakan keduanya. Cetakan pertamanya terbit tahun 1997. Tapi format cetakan baru ini, menurut saya, malah lebih jelek daripada cetakan pertamanya. Hal yang paling fatal adalah catatan-catatan kaki yang dikumpulkan semua di bagian belakang buku. Padahal sebagai buku sejarah, sangat banyak catatan kaki yang menyertainya. Jadi kita harus repot bolak-balik depan belakang waktu membacanya. Kenapa tidak ditaruh di bawah saja (sesuai dengan namanya yaitu catatan kaki) seperti pada buku cetakan pertama ?
Tapi terlepas dari kekurangan itu, saya masih merasakan ‘gigitan’ dari karya sejarawan muda potensial ini (sayang ia mati muda) seperti saat pertama kali saya membacanya. Gie membongkar catatan berdebu dari sejarah kita dan menyajikan kepada kita fakta-fakta yang luput dibahas (atau ditutupi) dalam buku-buku sejarah kita dulu di sekolah tentang pemberontakan PKI 1949 atau yang sering disebut sebagai Madiun Affair. Contohnya adalah fakta bahwa hanya dalam waktu 37 hari setelah berpelukan sambil berlinangan air mata dengan Soekarno di istana presiden, Musso melancarkan upaya kudeta yang gagal (hal. 218), tindakan-tindakan korupsi yang merajalela setelah tahun 1946 (hal. 147) atau ‘oknum’ pasukan Siliwangi yang suka merampok (hal. 233). Intinya bersiaplah ‘terkaget-kaget’ setelah membaca buku ini. Referensinya cukup lengkap, mulai dari buku-buku sejarah (baik yang resmi keluaran pemerintah, maupun dari penulis-penulis asing), media massa yang beredar masa itu (utamanya majalah dan koran), karya sastra yang memotret kondisi masa-masa itu sampai wawancara dengan tokoh-tokoh yang terlibat langsung dengan peristiwa itu (mulai dari Semaoen sampai Moh. Hatta). Ramuan ilmiah ini kemudian disajikan kepada kita dengan gaya bahasa dan penuturan yang mirip cerita novel sehingga menarik dan mencekam pembacanya. Seperti saat ia mengibaratkan Musso sebagai peniup suling dalam cerita Grimms, sementara tokoh-tokoh PKI lain dengan patuh mengikutinya (hal. 219).
Madiun Affair sendiri ternyata bukanlah satu peristiwa yang berdiri sendiri. Banyak peristiwa yang melatarbelakanginya, mulai dari jatuh bangunnya kabinet akibat perebutan pengaruh antara ideologi, partai dan perorangan sampai pada akhirnya kebijakan rasionalisasi tentara yang dilakukan oleh Perdana Menteri Hatta. Antiklimaks kudeta yang gagal ini juga diceritakan dengan dramatis, seperti ketika para tokoh-tokoh PKI sebelum dieksekusi (termasuk di dalamnya Amir Sjarifudin, bekas Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri) menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internasionale (hal. 273).

Mangan Ora Mangan Kumpul & Sugih Tanpa Bandha, Umar Kayam
Dua buku ini adalah kumpulan kolom yang (hampir) secara rutin terbit Selasa di koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Dalam dua buku ini (yang kemudian diteruskan sampai menjadi empat ‘sekuel’) Umar Kayam menyajikan potret keluarga yang terdiri dari Pak Ageng, seorang dosen ‘kere’ sebuah PTN di Yogya (yang ditengarai sebagai potret dari Umar Kayam sendiri) dan keluarga pembantu setianya, yaitu Mister Rigen, Miss Nansiyem dan anak-anak mereka, Beni Prakosa dan Septian Tolo-tolo.
Berbagai isu dibahas dalam tulisan-tulisan pendek ini, seperti isu politik (utamanya masalah pemilu), kebijakan pemerintah, pendidikan, budaya sampai hal-hal remeh seperti masalah makanan. Turut meramaikan pula berbagai peran pendukung seperti Prof Lemahamba (dapat diterjemahkan sebagai tanah luas) yang pinter dan kaya raya tapi suka snob dan sombong, Prof Prasojo Legowo (bisa diterjemahkan sebagai sederhana dan luas hati) yang pinter juga tapi hidupnya serba sederhana dan punya hobi naik motor bebek butut, keluarga inti Pak Ageng di Jakarta (Bu Ageng, anak-anaknya, Si Mbak & Gendut, cucu-cucunya, Kenyung & Ancici serta pembantu setia mereka di Jakarta yaitu Madam Belgeduwelbeh) serta Pak Joyoboyo sang penjual ayam panggang.
‘Sayangnya’, karena dari semula terbit di koran daerah pada kumpulan kolom ini cukup banyak simbol-simbol budaya Jawa yang merasuk dalam kumpulan kolom ini. Seperti metafor-metafor yang mengambil simbol-simbol ketoprak dan wayang. Sehingga mungkin agak susah dipahami oleh pembaca yang tidak begitu familiar dengan idiom-idiom budaya Jawa. Tapi justru karena itu, buku ini dapat digunakan untuk mengembara ke dunia Jawa. Tidak hanya dunia secara fisik geografis tapi juga dunia antropologis, budaya dan lain-lain.

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.