24 April 2006

Iklan Minjak Ramboet

Seorang teman dari sebuah milis djadoel mengirimkan gambar 'lucu' di samping ini. Meskipun out of context tapi bagi saya cukup menghibur. Apalagi saya termasuk pecinta ejaan dan struktur kalimat jadul (boleh tengok di profil saya). Dilihat dari ejaan Suwandi yang dipakai kemungkinan iklan ini berasal dari majalah yang terbit antara tahun 1947-1972. Tahun yang pasti belum ada konfirmasi, meskipun saya kuat menduga iklan ini dimuat sekitar tahun 1960-1970 (cuma menebak saja).
Gambar iklan minyak rambut (or should I say 'minjak ramboet'? ) itu mengingatkan saya pada film-film Bing Slamet atau (yang lebih tua lagi) P. Ramlee. Ketika keren berarti rambut yang tersisir rapi hitam kelimis mengkilap dan ow, tentu saja, kumis yang juga tertata rapi (boleh njlirit kecil atau segede pisang ambon yang penting tertata rapi). Dan lihatlah tatapan mata sang 'model' yang campuran antara melirik menggoda bin flamboyan tapi tetap tegas macho bin maskulin.
Jika ditilik dari uniform yang dikenakan dan tempat kerjanya (yang berlatar rambu-rambu lalu lintas), sang 'model' tentunya adalah seorang polisi abdi negara nan disiplin dan tekun. Bapak polisi tentu adalah seorang perwira (minimal letnan) karena minyak rambut seperti itu jika dipakai mengatur lalu lintas di jalanan tentu akan membuat rambut jadi sarang debu.
Dan cobalah ditilik budi bahasa dari adpertentie tersebut. Sang biro iklan merasa perlu menyapa segmen yang dituju dengan 'Tuan'. Jauh sungguh dengan iklan-iklan yang dimuat jaman sekarang. Biro iklan sekarang tak perlu 'repot' memanggil segmen pelanggan produk yang diiklankannya dengan 'Tuan', cukup dengan 'Anda' atau malah 'kamu' jika segmennya anak muda. Di jaman dulu itu panggilan yang memuliakan, di jaman sekarang malah jadi berjarak.
Omong-omong iklan ini memunculkan dua tanda tanya besar di kepala saya :
1. Apakah sang model juga menggunakan minyak ini untuk merapihkan kumisnya ?
2. Dengan bentuk kemasan yang mirip balsem apa efeknya jika terjadi kasus keliru penggunaan (misal dalam kasus terburu-buru sehingga tidak sempat melihat etiketnya) ?

19 April 2006

Pindahan

Finally we moved to Jakarta. Yes sir, Anda tidak salah dengar. Jakarta, kota yang sering saya maki-maki (dan sekarang tambah sering karena semakin lama tinggal di kota ini semakin banyak keblangsakan yang saya alami), akhirnya saya pilih sebagai tempat untuk menetap (semoga tidak selamanya sampai saya beranak pinak dan bercucu cicit) bersama istri tercinta.
'Prosesi' perpindahan berlangsung hari Sabtu yang lalu, memanfaatkan libur panjang yang tersedia. Adapun rumah petak kontrakan yang sedianya menjadi tempat tinggal kami adalah, mulanya, sebuah ruangan ukuran kira-kira 3x11 meter yang kemudian disekat menjadi tiga ruangan yang lebih kecil dengan multipleks. Dua ruangan di depan bisa dengan bebas 'ditafsirkan' menjadi ruang tamu dan kamar tidur (merangkap ruang 'kerja', ruang makan, ruang baca dan ruang-ruang lain yang sekiranya dibutuhkan). Sementara ruang paling belakang mutlak dijadikan dapur dan kamar mandi (yang juga merangkap menjadi tempat mencuci).
Awalnya saya agak sedih juga mengajak istri pindah ke tempat seperti ini. Apalagi dengan harga yang cukup bikin kepala dan dompet nyut-nyutan (dua kali lipat harga sewa rumah di Bandung). Bukannya rumah di Bandung lebih mewah. Dari segi ukuran sepertinya tidak begitu jauh berbeda, cuma rumah kontrakan di Bandung lebih cerdas dalam pembagian ruangnya sehingga nampak lebih lapang. Dan oya, kamar mandi & dapur yang lebih luas dan leluasa (kamar mandi rumah kontrakan kami di Pancoran, Jakarta bagian Selatan, cuma bisa dipakai untuk mandi berdiri memakai pancuran yang airnya muncrat dengan tersendat-sendat). Tapi begitu melihat istri yang nyaris tanpa komplen menerima situasi dan kondisi seperti ini, saya jadi berbesar hati lagi. Meski kadang suka sedih juga kalo mengingat istri saya selama ini dibesarkan di rumah yang luas plus berpekarangan luas dengan pohon buah-buahan.
Tapi ya apa boleh buat. C'est la vie toh ....... Jadi nikmati saja hidup di Jakarta. Siapa tau di sini bisa kopdar sama mbah Gombal a.k.a. oom Kere Kemplu, hehehehe

06 April 2006

Tampilan Baru

Dengan ini saya resmikan tampilan baru blog ini. Jika masih sama payahnya dengan tampilan yang kemarin mohon dimaklumi. Namanya juga orang baru belajar membuat dan menghias blog.
Akhir kata saya ucapken selamat menikmati (blog yang payah ini) ....

PS : Tampilan masih belum final sepenuhnya, terutama pada bagian footer. Ada yang bisa bantu membenahi kode CSS-nya ?

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.