24 January 2006

Pilih yang Mana Yaaaa ?

Terus terang, saya adalah tipe orang yang kadang-kadang suka direpotkan oleh masalah-masalah kecil. Sialnya, sering-sering saya malahan bangga dengan kondisi ini (bisa ditengarai sebagai sindrom narsisme stadium lanjut ?), seperti ketika sekarang ini saya sedang dalam dilema memilih internet browser. Saking bingungnya di komputer pinjeman-dari-seorang-dosen-yang-baik-hati-ini saya install tiga buah internet browser yang berbeda. Internet Explorer, Mozilla Firefox dan Opera. Terus terang saya agak bingung memilih di antara ketiga browser tersebut. Sekarang-sekarang saya memakai Firefox dan Opera secara bergantian, soalnya keduanya punya keunggulan dan kelemahan tersendiri. Firefox lebih familiar untuk saya yang sebelumnya pake IE, antarmuka-nya lebih cerah ceria, ada pop-up blocker, beberapa situs web yang kerap saya kunjungi (dalam hal ini termasuk juga blog saya sendiri, hahaha ...) juga terlihat proper tidak pating plethot lagian memberi rasa heroik bin bangga karena merasa ikut mendukung perangkat lunak yang dapat menggerogoti hegemoni Microsoft (mohon dicatat saya tidak pernah punya masalah pribadi dengan perusahaan ini, cuma ya rada anyel saja. Wong sugih kok pengine monopoli terus ...). Sialnya Firefox tidak punya semacam download manager yang handal. Sebenernya punya juga sih, tapi cuma dapat difungsikan untuk melihat daftar barang-barang yang saya download. Tidak (atau belum ?) bisa difungsikan untuk menghentikan dan meneruskan (stop and resume) proses download kita, bisanya cuma menghentikan dan mengulang kembali dari awal.
Silahken mengunduh Firefox dari sini ...

Lha, kalo sisi baik dari Opera yang paling saya sukai adalah adanya semacam download manager yang memungkinkan seorang tukang download seperti saya untuk menghentikan proses (misalkan karena ternyata di luar hari sudah malam dan istri saya kirim pesan pendek untuk buru-buru pulang karena sayur sudah dipanasin empat kali dan saya belum pulang juga) dan meneruskan kembali besok paginya. Selain itu, Opera juga punya pop-up blocker untuk mencegah gambar-gambar yang bikin sakit mata beterbangan di layar (terutama jika sedang mengakses Kaskus, hehehe ...). Tapi sialnya, web browser satu ini tidak mendukung hobi saya nge-blog (ada kemungkinan ini merupakan web browser favorit sang pakar, hahaha ...). Kalo mau edit post atau template sangat tidak dianjurkan memakai Opera, utamanya untuk pelanggan blogspot seperti saya. And for subjective reason, saya tidak terlalu suka dengan antarmuka Opera yang agak terlalu gloomy dan bermuram durja itu.
Lalu bagaimanan dengan IE ? Yeah right ...., saya sudah agak lama tidak pernah memakainya lagi. Selain karena rasa anti-monopoli yang selalu menggelegak di dalam hati sanubari ketika menatap logo IE yang rasa-rasanya belum pernah diganti semenjak internet masuk kampus tercinta ini (wah, heroik sekaligus gombal ...), juga karena rasa sebal akibat pop-up window yang suka bergentayangan tanpa permisi setiap kali saya kesasar (atau menyasarkan diri) ke situs-situs yang 'tidak-tidak'. Barangkali memang ada konspirasi jahat antara para pemrogram IE dengan penyedia layanan promosi murah-tapi-menyebalkan itu (harap dicatat, ini cuma pikiran nyeleneh seorang penggemar teori konspirasi seperti saya). Tambahan lagi, tak pernah (atau mungkin tak akan ?) terlintas di benak para petinggi Microsoft untuk menyediakan layanan semacam download manager di perangkat lunak gratisan yang dibundel bersama sistem operasinya itu. Lagian saya malu kalo kebetulan mampir dan memberi komentar di blog-nya Oom Priyadi trus ketauan kalo memakai IE di atas platform Windows (hiks ... snob banget yaaa ?).
Jadi kesimpulannya, untuk sementara saya memakai Firefox dan Opera secara bergantian. Bagaimana dengan Anda ?

Ada Apa dengan Hari Ini ?

Hari ini tahun ........

41 : Kaisar Romawi, Caligula, dibunuh oleh pengawalnya sendiri
1678 : Joan Maetsuycker, kepala VOC di Batavia antara tahun 1653 - 1678 meninggal pada tahun 1678 ketika masih menjabat
1712 : Raja Frederick II dari Prusia lahir
1848 : Demam emas California terjadi, dipicu penemuan emas oleh James W. Marshall di dekat kota Sacramento
1888 : Jacob L. Wortman mematenkan pita mesin ketik (masih ada yang make gak ya ? hihihi ...)
1908 : Lord Baden-Powell memulai gerakan kepanduan (ada yang masih inget Dasa Dharma Pramuka ?)
1916 : Jendral Sudirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang
1917 : Aktor Ernest Borgnine lahir
1924 : Kota St. Petersburgh diganti namanya menjadi Leningrad
1941 : Penyanyi Neil Diamond dan Aaron Neville lahir (tentunya di tempat yang berbeda ... :P)
1949 : Aktor John Belushi lahir
1959 : Aktor Nastassja Kinski lahir
1962 : Brian Epstein menandatangani kontrak untuk menjadi manajer The Beatles
1963 : John Myung, bassist Dream Theater, lahir
1965 : Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churcill, meninggal dunia
1984 : Komputer Apple Macintosh pertama mulai dijual
1989 : Pembunuh berantai, Ted Bundy, dieksekusi di Florida dengan menggunakan kursi listrik
2003 : Departemen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) mulai beroperasi secara resmi di Amerika Serikat

Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di sini ...

17 January 2006

Palsu tapi Enak

Kalau Oom Kere menyatakan di sini bahwa cover version 'Juwita Malam'-nya Ismail Marzuki yang dibawakan oleh Slank ternyata enak di kuping, saya tidak bisa tidak mengamini juga. Malahan, rada bikin surprise juga, kok ternyata Slank bisa bawain lagu dengan enak juga (hehehe, muhun maap buat para Slankers ...). Soal cover version yang 'barang palsu' itu bagi sebagian orang mungkin mengundang sinisme. Saya maklum juga karena banyak sekali lagu-lagu cover version bermutu sampah. Tapi, lho, ternyata banyak juga yang tidak kalah asyik, untuk beberapa kasus malah lebih asyik, dibanding versi aslinya. Berikut ini beberapa lagu 'cap koper' yang tak kalah yahut dengan lagu aslinya (setidaknya versi saya) :

Detroit Rock City - Mighty Mighty Bosstones (album Kiss My Ass, tribute to KISS)

Aslinya lagu berirama rock cadas ini dibawakan oleh grup rock bertopeng KISS, tapi di tangan grup asal Boston ini diplesetkan jadi ska-core dengan ensembel tiup yang, anehnya, mengingatkan saya pada irama musik Soneta group pimpinan Bang Haji Rhoma Irama (eh, ada yang bisa kasih tau nama-nama anggota Soneta group selain Bang Haji ?). Walhasil, setiap kali mendengar lagu ini, saya jadi cekikikan sendiri. Vokalnya gahar bin cadas tapi brass section-nya berasa agak ke-dangdut-dangdut-an. Apalagi pas bagian interludenya, yang aslinya dibawakan oleh sayatan gitar ala rock metal, tapi di tangan the Bosstones diganti jadi tiupan saksofon & trombon yang (menurut kuping saya) mengundang untuk berjoget, hihihi ... Oya Migthy Mighty Bosstones juga pernah meng-cover lagunya Metallica (Enter Sandman), Van Halen (Ain't Talkin' 'bout Love), Aerosmith (Sweet Emotion), Bob Marley (Simmer Down) dan beberapa grup/penyanyi lain yang, anehnya, kurang begitu ngetop dibanding mereka sendiri.

Perfect Strangers - Dream Theater (album A Change of Season)

Setengah dari album ini adalah cover version dari grup-grup dan penyanyi yang, konon, memberi pengaruh bagi musik mereka, yaitu Elton John, Deep Purple, Led Zeppellin, Pink Floyd, Kansas, Queen, Journey, Dixie Dregs dan Genesis (yang 'sayangnya' diwakili oleh 'Turn It On Again', coba kalo 'Firth of Fifth' pasti akan lebih cespleng hehehe ...). Tapi favorit saya tetep Perfect Strangers meskipun di lagu ini DT (singkatan dari Dream Theater lho ya, bukannya Daarut Tauhid-nya Aa Gym) tidak terlalu memberi interpretasi yang agak berbeda dalam menyampaikannya. Singkatnya, DT membawakannya hampir persis dengan Deep Purple (vokal James LaBrie di banyak bagian pun mirip banget dengan Ian Gillan), tapi saya tetep ngeyel bahwa lagu cover version ini cukup layak untuk didengarkan berulang kali. Eh, tapi ternyata DT cukup rajin lho membawakan lagu orang, bisa dilihat di sini.

Release, Release - Shadow Gallery dan Turn of the Century - Steve Howe & Annie Haslam (album Tales of Yesterdays : A View From The South Side Of The Sky)

Album ini adalah tribute album untuk Yes. Dari album ini ada dua lagu yang menurut saya sangat sedap untuk didengarkan. Yang pertama adalah Release, Release dari Shadow Gallery (aslinya dibawakan Yes dalam album Tormato). Alasannya adalah waktu itu saya lagi keranjingan albumnya Shadow Gallery, Carved in Stone (kebetulan keluar di tahun yang sama, 1995) hehehe ... Sebuah alasan yang mungkin kurang begitu objektif. Tapi ya begitulah, namanya juga selera, pasti deket-deket dengan yang namanya subjektif to ? Karakter vokal Mike Baker di sini agak nyrempet-nyrempet karakter vokalnya Jon Anderson, hanya saja terasa lebih nge-rock dibandingkan dengan vokal Jon Anderson yang melayang dan menghanyutkan. Angelic voices, kata beberapa pengamat musik soal karakter vokal si Jon ini (eh, emang ada yang pernah denger suara malaikat ?). Lagu kedua yang tak kalah enak adalah Turn of the Century yang dibawakan dengan baik dan (sepertinya) penuh penghayatan oleh Annie Haslam (mantan vokalis band Renaissance) dan Steve Howe (aslinya ada dalam album Going for the One). Dentingan lembut gitar akustik dari Steve Howe (yang adalah salah satu pencipta lagu ini) berpadu dengan vokal Annie Haslam yang bening dan tinggi seperti Jon Anderson, ditambah dengan sentuhan feminin (yang tidak dipunyai Jon) yang, menurut saya, menjadikan lagu ini lebih syahdu dibanding versi aslinya.
Wah, udah sore nih. Sementara itu dulu ya, nanti jikalau ada waktu, kesempatan dan niat disambung lagi ....

13 January 2006

Gara-gara Teknologi Digital

Sori, bukannya saya sok canggih. Saya cuman pegawe pocokan kasta paling rendah di institut tempat saya bernaung. Jadi gaya hidup digital yang saya maksud bukannya model seorang pakar yang ngingu alias memelihara, konon, sampai delapan biji antena parabola dan entah berapa televisi dalam rumahnya. Gaya hidup digital saya yaaa sekadar bekerja (baik yang memerlukan banyak tulis menulis atau tidak) dengan komputer (baik di rumah sendiri atau di kampus), sedikit-sedikit tengok internet atau kirim hasil atau perkembangan kerjaan via ftp atau e-mail. All in all, ya tidak canggih canggih amat lah, hehehe ……. Tapi setidak canggihnya pekerjaan saya, tetep ada beberapa benda yang, saking sudah cukup lama tidak digunakan, saya jadi agak lupa. Lupa membawa, lupa menaruh, lupa tidak membeli bahkan lupa cara menggunakannya ! Berikut ini list-nya :

1. Lem
Di era digital ini lem dipake buat nempel apa ? Lha kalo mau ‘nempel’ lampiran via e-mail kan tinggal diklik saja (just a click away, kata orang bule). Jadi wajar kalo benda ini sering tidak masuk daftar prioritas masuk tas. Untungnya istri punya hobi kerajinan melipat dan menempel kertas sehingga masih melestarikan benda prasejarah ini hehehe ….. Oya gara-gara suka lupa bawa lem ini ternyata cukup nyusahin juga kalo mau ngirim sesuatu secara konvensional alias lewat snail mail via PT Pos Indonesia (misal lamaran kerja). Meskipun kantor pos menyediakan lem juga cuma bentuknya itu lho yang nggilani, mirip (maaf) umbel atau ingus. Sudah nggilani ternyata daya lekatnya juga payah. Ya maklum gratisan …

2. Alat tulis
Yang ini rada kebangeten, karena dulu alat inilah yang paling sering saya gunakan. Sekarang rasanya menulis pake bolpoin atau pinsil atau spidol rada panjang sedikit kok sulit banget. Walhasil tulisan saya jadi pating plethot, soalnya alat tulis paling sering dipake cuman buat tanda tangan. Jadi alat tulis lebih sering cuma jadi penghuni tas saja, dikeluarkan dan dipakai kadang-kadang saja dan sering juga bikin surprise karena ketika dibutuhkan ternyata sudah macet atau tinta habis (untuk ballpoint atau spidol) atau putung bin bujel (untuk pinsil).

3. Cairan koreksi
Barang yang sering disalahkaprahkan sebagai tipp-ex ini sebenernya dari dulu jaman masih sekolah juga jarang dipake dan jarang dibeli. Soalnya mahal, dan kebiasaan dari dulu kalo ada tulisan yang salah ya main coret aja, kecuali kalo ngisi formulir atau daftar isian lain yang resmi bin formal. Tapi gak tau kenapa, beberapa waktu yang lalu istri saya inisiatif beli cairan koreksi ini. Ya lumayan, jadi bisa minjem hahaha .......

4. Penghapus
Saya sebenarnya suka menggambar, cuma sayangnya gambar saya jelek hahaha ... Maka itu barang ini agak jarang dipakai. Sebenernya dulu, waktu masih SD sampe SMA, saya masih memakai penghapus baik untuk menggambar bidang-bidang 3 dimensi di pelajaran Trigonometri(sewaktu di SMP & SMA) maupun untuk menggambar bebas. Tapi semenjak tahu bahwa ilmu penggambaran saya (terutama untuk bikin anatomi orang) tidak maju-maju (bahkan makin parah) akhirnya saya putuskan pensiun dini dari kegiatan gambar menggambar. Dus, sang benda karet ini pun terlupakan. Baru-baru ini saya mulai menekuni kegiatan menggambar lagi, tapi tidak otomatis sang penghapus jadi ikut nge-trend, soalnya saya lebih banyak nggambar pake perangkat lunak Photoshop. Jadi sori ya pus ... (panggilan buat penghapus, hihihi).

5. Penjepit kertas alias paper clip
Secara jujur saya akui bahwa saya sebetulnya masih butuh benda ini. Penjepit kertas atau paper clip atau sering saya singkat saja (dan tentu saja salah) sebagai klip (bukan vidio klip lho) sangat dibutuhkan untuk merapikan dokumen(tentu dokumen yang berbentuk kertas), utamanya pada saat saya mengirim lamaran kerja atau beasiswa (yang sampai sekarang belum ada yang tembus, sigh ...). Dulu sekali, saya pernah beli satu kotak penjepit kertas ini dan saya tempatkan di tas saya untuk jaga-jaga siapa tau perlu mendadak, cuma sayangnya karena kotak yang dipakai kurang canggih dan ergonomis (halah, ini ngomong apa sih ?) jadinya kumpulan klip tersebut pada mawut semua di kantong depan tas saya dan pada akhirnya (bisa ditebak) satu demi satu pada menghilang.

6. Penggaris
Karena saya sangat antipati dan agak trauma dengan pelajaran Trigonometri, dengan senang hati saya lupakan penggaris (dan kompanyonnya, yaitu busur derajat). Untungnya, saya dulu kuliah di jurusan yang tidak mengharuskan pegang-pegang penggaris dan busur derajat. Thanks God ...

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.