28 December 2005

Sore-sore dengan Jazz eh ... Jezz

Wah, kagak disangka-sangka lagu-lagu Karimata dr album Jezz masih ada di server lokal. Langsung disedot dan didengarkan, ternyata masih (dan kayaknya makin) nendang juga. Apalagi yang Seng Ken Ken dan Take Off to Padang ....... sedap niaaannnn. Membuat sore terasa makin cerah, hehehe ....... Hup, eh ternyata ada juga yang album Biting dan Pasti. Sedot maaaang ....... hehehe

I'm f**kin' Riiiiiiiichhhhhh ...........

Do you know how much my blog worth ?


My blog is worth $1,000,000,000,000.00.
How much is your blog worth?



No, it's actually worth ........



Hehehehe, got you ..........

26 December 2005

Korban Konsumtivisme

I work so hard to buy these gadgets


Apple iPod nano 40



Kodak Easyshare Z700


Tapi masih blon kebeli juga, hiks ............

23 December 2005

Korban



Jadi inget, bentar lagi Idul Qurban ya ?

22 December 2005

US Wars Part 1


Tentara dari Kompi A, Batalyon Polisi Militer ke-720, Resimen Artileri Medan ke-151 (diambil dari website US army)

Kalau Anda pikir negara Amerika Serikat baru-baru ini saja punya hobi menginvasi negara lain untuk memperluas wilayahnya (setidaknya secara ekonomi), seperti invasi ke Irak yang sampai sekarang belum nampak tanda-tanda mau ditinggalkan, berarti Anda harus siap-siap untuk kecele (dan Anda tidak sendiri, soalnya saya sendiri juga punya sangkaan yang sama, hehehe ….). ‘Hobi’ aneh ini ternyata sudah menjangkiti Presiden AS sejak lama. Paling tidak beberapa fakta yang berhasil saya kais dari internet (thanks to Wikipedia dan Encyclopedia of US History) menunjukkan hal itu. Berikut adalah beberapa di antaranya :

Perang Meksiko
(diterjemahkan secara bebas dari Mexican War, diambil dari website Encyclopedia of US History dan diedit secara bebas oleh saya)


Penyerangan Chapultepec (lukisan oleh James Walker, 1858)

Pada bulan Juli 1845, tentara Amerika Serikat di bawah pimpinan Zachary Taylor, tiba di Texas. Perundingan dengan pemerintah Meksiko pun dimulai, akan tetapi bulan Desember 1845 Presiden Amerika Serikat, James Polk, mengumumkan aneksasi Texas. Beberapa anggota Kongres, termasuk Abraham Lincoln, menentang tindakan tersebut karena menurut mereka hal adalah suatu agresi yang menuju ke imperialisme dan usaha mencari satu slave state baru (waktu itu, kalau tidak salah, Amerika Serikat dibagi menjadi free states dan slave states, dibatasi oleh sungai Mississipi – AP)

Jenderal Zachary Taylor mengalahkan pihak Meksiko di Palo Alto pada tanggal 8 Mei 1846, sementara Jenderal Winfield Scott mengadakan serangan dari laut menuju Meksiko untuk menduduki Vera Cruz dan pada akhirnya melapangkan jalan ke Mexico City, yang kemudian diduduki tanggal 14 September 1846. Sementara itu, Jenderal Stephen Kearny menaklukkan New Mexico dan dengan bantuan John Fremont menguasai California.

Peperangan diakhiri dengan ditandatanganinya Perjanjian Guadalupe-Hidalgo pada tahun 1848. Menurut perjanjian tersebut, Amerika Serikat mendapatkan wilayah California, New Mexico dan Utah. Perjanjian tersebut juga menyatakan bahwa Rio Grande menjadi batas wilayah definitif antara dua negara. Selama peperangan tersebut di pihak Amerika Serikat korban meninggal mencapai 13.283 orang dan 8.304 luka-luka.

Revolusi Texas
(diterjemahkan secara bebas dari Texas Revolution, diambil dari Wikipedia dan diedit secara bebas oleh saya)


Sam Houston pada Pertempuran San Jacinto (dilukis oleh Harry Arthur McArdle, 1898)

Revolusi Texas adalah perang antara kaum Tejanos (penduduk asli Meksiko yang tinggal di Texas) dan Texian (para kolonis kulit putih di Texas) melawan pemerintah Meksiko yang terjadi dari tanggal 2 Oktober 1835 sampai 21 April 1836. Hal ini dipicu oleh penolakan kaum Tejanos dan Texian terhadap kediktatoran Presiden Meksiko, Antonio López de Santa Anna, terutama atas tindakan pembekuan terhadap Konstitusi 1824 yang menyatakan Meksiko sebagai suatu republik federal setelah sebelumnya berada di bawah pemerintahan satu kerajaan.
Revolusi dimulai di Gonzales, Texas ketika Santa Anna memerintahkan pasukannya untuk melucuti milisi di sana. Pertempuran Gonzales dimenangkan pihak pemberontak, yang berujung dengan pendudukan benteng La Bahia dan kota San Antonio (disebut Bexar pada saat itu). Peperangan selesai pada tahun 1836 di Pertempuran San Jacinto dimana Jenderal Sam Houston memimpin pasukan Texas memenangkan pertempuran atas sebagian pasukan Meksiko yang dipimpin Santa Anna (dimenangkan hanya dalam waktu 18 menit !). Sehari setelah pertempuran, pada 22 April 1836, Santa Anna berhasil ditangkap. Tanggal 14 Mei 1836, Santa Anna menandatangani Perjanjian Velasco yang menyatakan akhir peperangan antara pasukan Meksiko dan Texas dan penarikan mundur pasukan Meksiko sampai ke selatan Rio Grande.
Akhir dari peperangan ini adalah pembentukan Republik Texas yang satu dekade kemudian dianeksasi oleh Amerika Serikat sebagai negara bagian ke-38 oleh Presiden James Polk (wah, ini bisa jadi saingan Bush Jr. nih ……. – AP).

Oke, sementara itu dulu deh. Besok-besok kita bicarakan tentang Perang Spanyol – Amerika dan Perang Filipina – Amerika. Atau kalau udah gak sabar bisa di baca di Wikipedia di sini dan di sini.

The Mac Syndrome

Tidak begitu jelas kenapa saya begitu tergila-gila, bahkan hampir sampai pada tahap terobsesi, kepada yang namanya komputer Macintosh. Mungkin karena bentuknya yang lucu, baik bentuk komputernya secara fisikal maupun interfacenya. Tidak begitu jelas juga sejak kapan ‘penyakit’ ini mulai menghinggapi saya. Sayangnya karena harga yang, menurut saya, naujubileee mahal saya sampai sekarang belum kesampaian untuk membeli satu perangkat komputer Macintosh.
Justru karena keterbatasan itulah jadi timbul keinginan untuk ‘mendandani’ PC saya paling tidak supaya interface-nya jadi mirip interface komputer Apple Macintosh. Tak disangka, tak diduga, di internet pun banyak orang yang mirip dengan saya sehingga program-program emulator maupun visualisasi supaya interface Windows ala PC jadi sama dengan interface MacOS ala Macintosh dapat dengan mudah saya dapatkan (thanks to the internet). Oya kali pertama saya melakukan hal ini dengan komputer Pentium 120 saya dulu dengan sistem operasi Windows 97 (Windows 95 ver 2). Hasilnya lumayan mirip dengan interface MacOS versi 8.0 atau 9.0 (sori, lupa-lupa ingat nih). Bahkan pernah waktu dibawa ke tukang servis (waktu itu mau di-upgrade jadi Pentium 200 MMX), si tukang servisnya bertanya dengan kaget, ‘Lho kok komputernya Apple ?’ dan dengan noraknya sambil senyum-senyum saya terangkan pada tukang komputer tersebut bahwa itu cuma emulasi/visualisasi belaka. Sayang, yang masih jadi kekurangan waktu itu adalah Windowblinds yang ada cuman versi evaluasi 30 hari (dapet dari CD majalah Chip punya temen) dan belon ngetrend tukang-tukang CD di sekitar kampus. Jadinya ya kurang begitu mirip dengan sempurna.
Setelah lulus dan bekerja, saya jadi kurang begitu ngoprek komputer itu. Selain karena udah jauh ketinggalan jaman (waktu itu udah jamannya Pentium 3, sementara komputer awak masih teuteup Pentium 200 MMX :P), di tempat kerjaan juga dapat fasilitas komputer. Jadilah semakin terkubur itu obsesi. Sampai akhirnya tiga tahun kemudian, saya tahu-tahu kepengen beli komputer dan kebetulan ada dananya. Setelah install program sana sini tiba-tiba kok nongol lagi obsesi ‘aneh’ itu. Di internet, ternyata kok ya masih ada orang-orang dengan keinginan yang sama. Bahkan makin berkembang dengan membentuk komunitas-komunitas diskusi, coding dan sharing program-program atau skin-skin buatan sendiri. Beberapa, yang saya tahu, cukup rame adalah WinCustomize dan Aqua-Soft. Bahkan ada yang sampe bikin step-by-step untuk menyulap interface Windows XP menjadi MacOS X Tiger di sini.
Langkah pertama yang saya lakukan adalah men-download Windowblinds dan theme MacOS X Tiger bikinan Steve Grenier. Lalu Desktop X, iTunes, Objectbar & ObjectDock. Eh, ternyata Windowblinds dan Desktop X versi evaluasi kurang powerful dalam menerapkan theme punya Steve (ya iya lah, namanya jg gratisan) jadi terus spekulasi lari ke kios CD, kok ya ndilalah ada satu kumpulan program keluaran Stardock komplit (tentu yang enhanced version dong … ). Gak terlalu banyak sih yang diinstall di komputer, cuman Windowblinds, Desktop X, ObjectDock, Icon Packager, Logon Studio, CursorXP dan WindowFX. Ternyata pas CursorXP-nya gak bisa diinstall, ya apa boleh buat resiko beli kumpulan program kayak gini. Setelah install semua program tersebut dan download skin-skin dan theme yang diperlukan, hmmm lumayan juga jadinya. Udah rada-rada mirip Macintosh nih, tp kok kayaknya masih ada yang kurang nih … Oya sebagai referensi dipakai screenshot dari desktop-nya Steve Grenier sebagai berikut :


steve's desktop

Sambil mikir-mikir apa yang kurang, saya kemudian lihat-lihat lagi referensi di internet, khususnya yang dibikin oleh Steve Grenier dan emulation manual dari alang (yang terakhir ini nemu di forumnya Aqua-Soft). Tiba-tiba makcling ! kok ada link program AveDesk di kedua situs tersebut, download ah …. Di situsnya selain source program juga ada desklet-desklet menarik yang mendukung emulasi penampilan ala MacOS. Oya program ini adalah donationware, artinya kalo kita download trus pake trus suka, kita ‘dihimbau’ untuk memberikan donasi kepada Andreas Verhoeven, yang bikin program itu. Setelah diinstall lho kok malah lebih bagus dari DesktopX, lebih banyak pilihan widget-nya (di AveDesk disebut sebagai desklet) dan lebih enteng (tidak terlalu menghabiskan memori). WindowFX tidak jadi diinstall karena berat banget (VGA card-nya kayaknya gak kuat) diganti ama YzShadow (by M. Yamaguchi) yang jauh lebih enteng. Objectbar juga gak kepake dengan alasan yang sama dan malah jadi rada ribet makenya.
Sebenernya pengen download dan install Flyakite OSX juga tapi karena gak terlalu urgent (dan ukuran download filenya gede banget !) tidak terlalu jadi prioritas. Sampai akhirnya kemaren gak sengaja nemu di ftp lokal. Yihaaa, lumayan biar nambah mirip ama MacOS X hehehe … Dengan Flyakite OSX saya bisa merubah boot screen (dengan Logon Studio Cuma bisa merubah logon dan shutdown screen), nambah dekstop wallpaper, screensaver dan install skin buat PowerDVD. Sebenernya banyak juga sih yang bisa dilakukan oleh software ini tapi saya butuhnya cuman itu. Oya bagi para pemula, software ini sangat powerful. Dengan menginstall software ini saja plus Windowblinds, sebenernya sudah cukup optimal untuk mengubah interface Windows XP jadi MacOS X. Cuma saya kurang begitu sreg dengan theme untuk Windowblinds yang disertakan di sini. Masih lebih bagus yang bikinan Steve Grenier.
Akhirnya, jreng jreng jreng …………………


my desktop


my desktop

What do you think ?

Credits:
- Apple
- Aqua-Soft
- Steve Grenier
- Osx-e.com Emulation Manual by alang
- AveDesk
- Stardock

21 December 2005

Misscomunication

Beberapa hari ini telepon seluler saya (lihat gambar samping) bener-bener bikin jengkel yang punya. Bagaimana tidak, itu alat komunikasi mobile suka tiba-tiba mati tanpa permisi. Jadi selalu banyak keluhan dan makian yang diterima empunya terkait dgn kesulitan berkomunikasi. Adapun saya cuma bisa meringis penuh rasa bersalah-tapi-apa-boleh-buat (hihihi, gaya bahasa Romo Mangun dibawa-bawa ...).
Tambahan lagi, keypad-nya yang udah diganti sebanyak dua kali sekarang kok berasa keras betul. Tiap ngetik sms jadi banyak salahnya. Tiga hari yang lalu hampir saja ponsel saya banting ke tembok. Gara-garanya saya lagi kesusu pengin menghubungi orang, eh tau-tau baterenya tewas. Untung otak saya masih waras sehingga tidak sampai melakukan perbuatan sia-sia tersebut, di samping kalkulasi otak bahwa mengeluarkan duit untuk ganti ponsel di saat keuangan lagi kritis kayak gini adalah suatu kebodohan :P.
Kalau menuruti nafsu, pengen rasanya saya ganti ponsel dengan yang di bawah ini :

atau setidaknya ini :

Ada yang mau ngasih duit (setidaknya) Rp 3,5 juta ? Hehehe ......

Identity Crisis



SPOILER ALERT !!!

Fiuuuu …….., akhirnya menulis juga. Setelah sekian lama cuma jadi angan-angan doang.
Baru ‘rampung’ membaca Identity Crisis (sebenernya jg udah rada lama ding, hehehe), satu mini seri yang mengguncang DC universe akhir-akhir ini. Komik ini ditulis oleh salah satu pengarang novel laris di US sono, Brad Meltzer, dan digambar oleh salah satu talent terbaik di jagat komik, Rags Morales. Eh, tunggu-tunggu, Brad who ? Yah, saya tidak menyalahkan anda kl belum pernah mendengar nama bapak ini, wong saya juga (sumprit) belum pernah denger (apalagi baca) novelnya barang satu pun (wah, ketauan bukan avid reader niiii ….. cuman ngaku-ngaku thok hehehe …). Tapi denger-denger salah satu novelnya, ‘The Tenth Justice’, termasuk salah satu novel laris di US.
Enough about that, mari kita sedikit mereviewnya. Premis ceritanya sederhana sebetulnya. Sue Dibney, istri Ralph Dibney a.k.a Elongated Man (salah satu anggota JLA), pada suatu hari ditemukan meninggal dengan tubuh terbakar. Tragisnya, hal tersebut terjadi sesaat sebelum perayaan ulang tahun Ralph dan, found out later, bahwa Sue sedang dalam keadaan mengandung. Ternyata kejadian yang di permukaan nampak sebagai pembunuhan biasa, memunculkan beberapa efek domino di belakang. Bermula dari kecurigaan Elongated Man terhadap Dr. Light sebagai tersangka utama pembunuh istrinya. Ini didasarkan pada pemerkosaan yang pernah ia lakukan pada Sue beberapa tahun yang lalu di JLA Watchtower.
Pencarian delapan anggota JLA (Elongated Man, Green Arrow, Atom, Hawkman, Zatanna, Flash, Green Lantern dan Black Canary) mempertemukan mereka dengan pembunuh paling ditakuti (dan juga paling hype saat ini, hehehe …) di DC universe, yaitu Slade Wilson a.k.a Deathstroke. Pertarungan mereka berdelapan (yang nyaris saja kalah !) dengan Deathstroke mengembalikan ingatan Dr. Light bahwa ia pernah di-mind wipe dan dengan demikian membawa isu tersebut ke seluruh super villain (kelanjutan isu ini dibahas di mini seri Villains United). Pada akhirnya juga ketahuan bahwa bukan cuma Dr. Light yang di-mind wipe malam itu. Batman yang memergoki teman-temannya sedang ‘melobotomi’ Dr. Light marah besar, dus memaksa Zatanna untuk juga menghapus ingatan Batman tentang kejadian malam itu. Lobotomi atas Batman itulah yang nantinya akan menjadi fundamental dari alur Crisis of Conscience, yang kemudian berujung pada Infinite Crisis (by now, denger-denger udah beredar dua nomor dari mini seri ini).
Meltzer berhasil meramu ketegangan cerita detektif (yang membuat kita tidak sabar untuk membaca nomor demi nomor) dan politik antar anggota JLA terkait isu mind-wipe (yang pada akhirnya akan dikembangkan menjadi suatu mini seri baru dan digembar-gemborkan ‘akan merubah DC universe selamanya’) dalam mini seri sepanjang tujuh nomor ini. Art dari Morales pun cukup bagus, meskipun kadang ia kurang konsisten dalam hal kualitas. Mau bukti ? Ini ada contoh di mana Superman bisa berubah menjadi Giraffe Man, hehehe ……

IMHO, mini seri ini cukup bagus. Hal yang patut disayangkan justru adanya plot-plot sekunder yang tidak tuntas dibahas sehingga malah jadi mengganggu. Seperti soal Captain Boomerang dan anaknya. Cerita detektifnya pun cukup banyak flaw-nya (meskipun belum cukup untuk dikategorikan lousy seperti komentar beberapa anggota milik komik alternatif), seperti masalah yang dipecahkan dengan cara ‘meneropong’ otak Sue, kalau saja mereka sabar menanti hasil otopsi toh krisis ini tidak akan mungkin terjadi (dus tidak akan berujung pada Infinite Crisis, hehehe …), juga penyelesaian soal pembunuhan Sue yang terkesan gampangan. Penjelasan-penjelasan yang diberikan di akhir cerita rasanya kok masih kurang sreg. Apakah untuk ‘mengirim pulang’ para superhero agar bisa kelon di rumah dengan istrinya perlu sampai membunuh seorang istri superhero yang lagi hamil, ayah seorang sidekick dan seorang villain veteran ? Dan yang paling mengganggu pikiran adalah, kenapa Batman bisa jadi begitu marah ketika memergoki teman-temannya, para anggota JLA, me-mind wipe Dr. Light ? I don’t have any idea about this, mungkin ada yang bisa bantu ?
Well, pada akhirnya justru pro-kontra ini yang membuat mini seri Identity Crisis begitu menggebrak dunia perkomikan. Mungkin tidak seground-breaking Watchmen atau Dark Knight Return, tapi fundamental yang diberikan kepada cerita krisis yang lebih luas di DC universe adalah satu strategi bisnis yang bukan main-main. Seperti diketahui mega event Infinite Crisis menghasilkan empat mini seri (masing-masing enam nomor) pre-crisis, yaitu Day of Vengeance, The Omac Project, Rann-Thanagar War dan Villains United, dan beberapa tie-in dari serial-serial yang terbit secara reguler (seperti misalnya Wonder Woman dan Firestorm), belum lagi nomor-nomor Crisis of Conscience dan Infinite Crisis. All in all, Identity Crisis memang worth untuk dibaca, sayangnya hanya tersedia versi hardcover (dengan harga selangit) dan tidak (atau belum ?) ada versi TPB dengan harga yang lebih ekonomis. Untungnya saya baca yang versi digital hehehe …. Memang DC universe pasca Identity Crisis will never be the same. Oke deh, selamat hunting dan baca Identity Crisis yaaaa …….

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.