Jarum hujan datang lagi pagi ini Menyelinap, mengetuk alam bawah sadarku Lalu kami menari sendiri dan bersama-sama Berputar-putar, memutar (atau diputar ?) jentara semesta Tersedot ke pusaran kehidupan sampai kami hilang ujud Sampai ketika langit biru berpelangi datang dia menyelinap pergi
Mendaki, meretas segala sulur dan duri
seperti Icarus terbang menemui matahari
untuk kemudian dihempaskan kembali ke bumi
Remuk tulangku digulung ombak realitas
Terbang abunya tenggelam dipeluk makrokosmos
Di akhir perjalanan ini,
ijinkan aku menjadi bayanganmu
Tegak kau jilat tetes darah dari pedangmu
Sudahkah pertempuran terakhirmu ?
Pergi sana, bertanyalah pada pasir Parangtritis
lalu berkacalah pada awan
Karna darah serupa tuak yang memabukkan
Bagaimana mengatakan ini padamu ?
Bagaimana menahan gejolak perasaan paling purba ?
Sementara kau mahkotai hatiku dgn kawat duri
Sementara kau sudah telanjur dorong keretamu jauh ke depan
menggilas serpihan-serpihan asa
Jangan kau mundur selangkah pun
Biar ku semai benih-benih api ini
di hatimu
Matahari lantang berteriak dengan sinarnya
Padang perburuan purba
Kalpataru pun rontok meranggas
jatuh daunnya
ditempa jadi besi-besi tajam
Kau bawa air matamu ke sini
biarkan jadi api yang membakar
Remukan tulang, laburan darah
tak berarti apa-apa
Sang ular pertapa telah ribuan kali berganti kulit
Lalu kau kenakan sebagai zirahmu
Dan kau pun menjelma jadi dewa
yang berhak tumpas segalanya
Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.