30 July 2004

Pintaku

Ijinkan kubuka keran kata-katamu
biar mengalir kristal-kristal pemikiranmu
Lalu kan kutadahkan perisaiku

Bandung, Mei 2001

28 July 2004

Malam Penantian Panjang, Sepi dan Tak Berteman

Lihat, hujan pun sekarang berwarna merah
Bulan pun pucat dan bopeng
Terbuka kelopak lukanya
tersedot ku ke dalamnya

Bandung, Mei 2001

27 July 2004

Hatimu (?)

'Ceritakan padaku tentang hatimu,' pintaku
lalu kau terdiam
'Itukah hatimu ?' bisikku

Bandung, Mei 2001

26 July 2004

Jarum Hujan

Jarum hujan datang lagi pagi ini
Menyelinap, mengetuk alam bawah sadarku
Lalu kami menari
sendiri dan bersama-sama
Berputar-putar, memutar (atau diputar ?) jentara semesta
Tersedot ke pusaran kehidupan
sampai kami hilang ujud
Sampai ketika langit biru berpelangi datang
dia menyelinap pergi

Bandung, Februari 2001

23 July 2004

Senjaku, sendiriku


Hujan turun bagai kristal dari langit
Dan cakrawala senja tak lagi jingga
Aku terdiam menatap ke barat
: wajah siapakah tergambar di sana ?

Bandung, Maret 2001

Perjalanan

Mendaki, meretas segala sulur dan duri
seperti Icarus terbang menemui matahari
untuk kemudian dihempaskan kembali ke bumi
Remuk tulangku digulung ombak realitas
Terbang abunya tenggelam dipeluk makrokosmos
Di akhir perjalanan ini,
ijinkan aku menjadi bayanganmu

Bandung, Februari 2001

22 July 2004

Api,Api,Api !!!


Senyum seringaimu pancarkan api
Lalu darahku pun jadi beku
Kau hisap sepenuh hasrat
Bilakah ini terjadi ?
Kau dan aku menyatu di cakrawala
Bandung, Mei 2001

20 July 2004

Mangir

Tegak kau jilat tetes darah dari pedangmu
Sudahkah pertempuran terakhirmu ?
Pergi sana, bertanyalah pada pasir Parangtritis
lalu berkacalah pada awan
Karna darah serupa tuak yang memabukkan

Bandung, Mei 2001

15 July 2004

A Brief Discussion about Most Ancient Lie

Bagaimana mengatakan ini padamu ?
Bagaimana menahan gejolak perasaan paling purba ?
Sementara kau mahkotai hatiku dgn kawat duri
Sementara kau sudah telanjur dorong keretamu jauh ke depan
menggilas serpihan-serpihan asa
Jangan kau mundur selangkah pun
Biar ku semai benih-benih api ini
di hatimu

Bandung, Mei 2001

12 July 2004

Kurusetra

Matahari lantang berteriak dengan sinarnya
Padang perburuan purba
Kalpataru pun rontok meranggas
jatuh daunnya
ditempa jadi besi-besi tajam
Kau bawa air matamu ke sini
biarkan jadi api yang membakar
Remukan tulang, laburan darah
tak berarti apa-apa
Sang ular pertapa telah ribuan kali berganti kulit
Lalu kau kenakan sebagai zirahmu
Dan kau pun menjelma jadi dewa
yang berhak tumpas segalanya

Bandung, Mei 2001

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.