07 October 2008

Daftar Dengar Bulan Kemarin

Terserah bagi yg mau nuduh saya snob, saya gak peduli :). Cuma karena bingung pengen ngisi blog tapi dapat idenya yang ini ya apa boleh bikin. Berikut daftar dengar saya selama sebulan kemarin


Abbhama – Alam Raya


Saya sungguh menyesal mendengar album ini. Menyesal kenapa gak dari dulu dengerinnya, hehehe ….. Keseluruhan track dalam album ini membawa pikiran berasosiasi ke film Indonesia tahun 70-an lengkap dengan pemuda berambut gondrong dan bercelana cutbrai putih, serta para pemudinya dengan rok balon dan rambut mengembang. Jangan lupakan juga adegan slow-motion yang begitu dramatik.


Chris Squire – Fish Out of Water


Satu-satunya album solo, setidaknya sampai saat ini, dari satu-satunya personil Yes yang tidak pernah keluar dari band legendaris tersebut. Oleh karena itu wajar rasanya jika ‘bau’ Yes sangat tercium di album ini, apalagi Bill Bruford dan Patrick Moraz ikut membantu album ini. Pertama kali mendengar album ini tahun 2002 di radio Rase, Bandung tapi tidak begitu komplit dan baru sekarang dapat satu album komplit. Recommended bagi penggemar prog-rock yang belum mendengarnya (mungkin cuma saya yang belum pernah dengerin album ini hehehe …)


Neuschwanstein – Battlement


Dapat album ini dari Pak Gatot. Sungguh mirip dengan Genesis era Peter Gabriel, terutama formasi puncaknya (meminjam istilah Pak Gatot, hehehe …). Cukup enak didengar, karena saya fans Genesis, tapi pada waktu yang bersamaan membuat berpikir kenapa tidak mendengarkan Genesis yang asli saja. Secara umum, cukup bersahabat dengan telinga tapi tidak menawarkan sesuatu yang baru dan mengejutkan.


Shark Move – Ghede Chokra’s


Album ini baru saya ketahui dari daftar 150 album yang dirilis Rolling Stones Indonesia beberapa waktu yang lalu. Versi digitalnya baru saya dapatkan atas kebaikan hati Pak Gatot sang dedengkot prog. Sungguh mengejutkan bahwa pada kisaran tahun itu para musisi Indonesia bisa menghasilkan karya yang menurut saya monumental dan hanya ‘kalah’ sedikit dibandingkan dengan Guruh Gipsy. Album ini sungguh sangat ‘tidak Indonesia’ (dalam arti yang bagus). Recommended untuk anak-anak sekarang agar mereka tahu bahwa musik Indonesia tidak hanya berarti Kangen Band, Radja atau Dewa (boleh pakai 19 boleh juga tidak) hehehehe


Yes – Fragile


Lagu-lagunya sudah tidak asing lagi di telinga cuma baru saja mendapatkannya dalam satu paket album utuh (ya, saya memang menyedihkan). Tentu saja tidak ada komentar lain selain kwereeen …. Roundabout, South Side of the Sky, Long Distance Runaround dan bonus track America (cover version dari lagunya Paul Simon) memang enak didengarkan sore-sore sambil minum teh dan makan nyamikan. Pokoknya bintang lima deh untuk album ini


Bill Bruford’s Earthworks – The Sound of Surprise


Salah satu project dari mantan drummer Yes dan mantan session drummer Genesis ini, anehnya, justru lebih menonjolkan porsi piano yang dimainkan Steve Hamilton (yang ternyata juga adalah seorang pemain poker profesional) dan saxophone yang dimainkan Patrick Clahar (pernah bergabung dengan Incognito). Permainan Bruford di album ini sendiri tidak terlalu istimewa dan tidak terlalu menonjol tapi secara garis besar album ini cukup menghibur. Apalagi untuk seorang yang awam jazz seperti saya :). Album ini tidak terlalu ruwet sekaligus tidak terlalu ringan (hehehe, bingung kan ?). Pokoknya cocok untuk didengarkan dalam perjalanan pulang dengan KRL


Pink Floyd – The Dark Side of the Moon


Ya ya ya, guilty as charged. Ngakunya penggemar prog tapi baru sempet dengerin TDSOTM sekarang. Dasar gak tau malu. Tapi mengesampingkan rasa malu dan (mungkin) pandangan sinis para kamituwa prog lainnya sungguh sejujurnya saya tergugah betul mendengar album ini secara penuh. Setelah sempat ‘takut’mendengarkan Pink Floyd gara-gara lagu Shine on You Crazy Diamond versi live, akhirnya diri ini menyadari bahwa PF bisa berkawan dengan kuping saya yang katro ini. Apalagi The Great Gig in the Sky yang bisa membikin dengkul bergetar saking yahudnya.


The Mars Volta – Frances the Mute


Sebelumnya saya penasaran berat sama grup ini gara-gara gelar band prog-rock terbaik 2008 yang dianugerahkan oleh majalah Rolling Stone pada mereka. Dan juga gara-gara kemropok baca interview Omar Rodriquez Lopez, gitaris band ini, dengan Rolling Stone yang kesannya kemaki banget, bahkan jauh lebih kemaki dari Ahmad Dhani atau Otong Koil. Lha mosok begitu beraninya dia meremehkan dan mengece Led Zeppelin, diamput tenan wis pokoke. Tapi begitu album ini saya pasang, aduh biyuuung, kok kayak gini musiknya. Terlalu banyak distorsi yang, menurut saya, tidak pada tempatnya. Bukannya saya anti distorsi, toh saya masih kuat dengerin Jimi Hendrix, Nirvana, Led Zeppelin ato band-band distorsi lainnya (atau mungkin contoh yang saya kemukakan kurang distorsi ?). Mungkin sementara saya simpan dulu untuk didengarkan lain waktu

Labels: , ,

24 May 2008

Cincha Lawra, Petjoek dan Sumpah Pemuda

Apa ? Cincha Lawra udah basi, bahkan kalah pamor sama iklan Roncar ? Peduli amat, karena saya menulis blog bukan berdasar tren sesaat hahahaha ….. Adalah Cincha Lawra yang melintas di pikiran saya ketika malam ini iseng-iseng membaca ulang bukunya Prof. Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis. Kebetulan pas buka pas halaman yang membahas bahasa petjoek. Apakah bahasa petjoek itu ? Bagi yang belum tau, bahasa petjoek adalah bahasa yang lahir akibat percampuran bahasa Belanda dengan bahasa pribumi (bisa bahasa Jawa, Melayu atau Cina) yang sering dipergunakan oleh anak-anak Indo dan anak-anak dari golongan masyarakat terpandang saat itu. Nah, tentu pembaca bisa mengendus hubungan antara Cincha Lawra dan bahasa petjoek.

Sebagai orang bodoh, saya dengan gegabah mengklasifikan bahasa yang sering meluncur dari bibir tipisnya sebagai bahasa petjoek jenis paling mutakhir (mungkin petjoek ver 2.0 hehehe …). Masih kurang percaya coba simak contoh berikut ini (masih dikutip dari buku Kebudayaan Indis):

Hallo Lien, jij fan waar ?

(“Halo Lien, kamu dari mana ?”)

Wah, jij, ‘toe hoe toh ? Ya fan school tierlek

(“Wah, kamu itu bagaimana toh ? Dari sekolah tentunya”)

Lho kok natierlek

(“Lho kok tentunya”)

Ja natierlek, iki lho mijn tas

(“Ya tentunya, ini lho tasku”)

Dari contoh di atas bisa dengan mudah ditelusuri pengaruh bahasa jawa yang menyusup ke dalam pembicaraan bahasa Belanda yang waktu itu identik dengan bahasa ‘tinggi’. Jika diterjemahkan dalam bahasa ala Cincha Lawra mungkin akan jadi seperti ini :

“Hello Lien, you dari mana ?”

“Wah, kamu, please deh ? Ya from school of course

“Lha kok of course

“Ya of course dong, liat aja my bag

Oke, jika bahasa ala Cincha Lawra sudah menuai kehebohan yang sangat di jagat blog, wait until you see this (lho kok ikut ber-petjoek ria ?)

Dalam bahasa Belanda sekolahan, air soda diterjemahkan sebagai mineraalwater, sementara dalam bahasa petjoek, air soda diterjemahkan sebagai water eropees. Orang yang terbiasa berbahasa Belanda yang baik dan benar tentu akan bingung tak berujung, ternyata usut punya usut water eropees adalah terjemahan letterlijk terhadap lema banyu landa alias air soda dalam bahasa Jawa.

Akan tetapi tidak seperti Cincha Lawra yang stylish dengan bahasa petjoek model barunya (sehingga banyak selebritis indo lain yang ikut-ikut), bahasa petjoek asli dianggap sebagai bahasa yang tidak beradab dan tidak sopan karena dipengaruhi bahasa bangsa kulit berwarna, yaitu orang yang dianggap berderajat rendah di dalam kehidupan bermasyarakat Hindia Belanda (Soekiman, 2000). Untung dia tidak lahir pas jaman kolonial ya, hehehe ….

Sementara itu saya jadi ingat juga waktu jaman ABG di Solo dulu, radio-radio dengan segmen pendengar remaja banyak juga penyiarnya yang berbicara dengan bahasa semi-petjoek. Saya sebut dengan semi-petjoek karena sebenarnya bahasa yang digunakan masih Bahasa Indonesia (tentunya bukan yang baik dan benar tapi versi lu-gue) tapi dengan pengucapan yang agak-agak pelo alias celat ala Belanda kumpeni yang sering nongol di film-film perjuangan made in Indonesia (kecuali Tjoet Nja’ Dhien bikinan Eros Djarot). Sungguh suatu kebetulan (trend yang berulang ?) ketika bahasa ‘keren’ ini kembali popular di jagat hiburan.

Lha terus hubungannya apa sama Sumpah Pemuda ? Ya terlintas juga di pikiran bahwa Oktober tahun ini Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun.

Kami, pemoeda pemoedi Indonesia, mendjoendjoeng tinggi bahasa persatoean

Bahasa Indonesia

Ah, sungguh menggetarkan. Menggetarkan ? Ayak …..

Labels: , , ,

16 November 2006

Tour de Buitenzorg

Setelah lama tertunda-tunda terus, akhirnya saya dan istri , sebagai pecinta kegiatan wisata yang murah meriah, dapat juga mewujudkan 'cita-cita' kami yaitu pergi ke Bogor. Khususnya untuk mengunjungi Museum Zoologi dan Kebun Raya Bogor (KRB). Selain takut jika kelamaan tidak diwujudkan pasti nanti akhirnya cuma jadi wacana (seperti terjadi pada rencana-rencana kami yang lain) juga karena gengsi takut keduluan Bush Jr, hehehe ...
Maka, pada suatu hari Sabtu yang agak mendung berangkat juga kami menuju Gambir. Rencananya kami ingin menumpang KRL eksekutif jam 07.44 tapi gagal karena persiapan sebelum keberangkatan dari rumah yang benar-benar complicated dan lama(terutama saat istri saya berdandan dan milih baju, hehehe). Akhirnya kami naik KRL jam 8.17, yang kenyataannya berangkat kira-kira jam 8.30 karena lalu-lintas kereta yang cukup padat pada jam-jam segitu.
Begitulah, kira-kira satu jam setelah diguncang- guncang dalam kereta yang sebenarnya cukup nyaman karena ber-AC (kurang begitu jelas apakah masih nyaman dinaiki saat jam-jam sibuk) sampai juga kami di Bogor. Hal pertama yang saya lakukan adalah menghirup udara dengan penuh kebebasan. Akhirnya terbebas juga dari teror asap polusi Jakarta. Tapi begitu keluar dari stasiun, lho (!) kok macetnya betul-betul ajegile. Angkot dan becak ngetem dengan enaknya, seolah-olah itu jalan bapak mertua mereka. Wah kesan pertama tidak begitu menggoda nih.
Setelah mengisi perut di gerobak nasi uduk pertama yang kami temui, akhirnya diputuskan untuk berjalan kaki menuju KRB. Begitu kami nongol di jalan Juanda kami langsung disambut pemandangan lapangan rumput nan luas dan istana yang megah berdiri. Yes, we're officially here in Bogor. Eh, tapi kok banyak bapak dan ibu polisi. Sebagian sibuk mengatur lalu-lintas, sementara yang lain mondar-mandir dengan muka serius atau duduk-duduk santai di trotoar depan pagar istana. Ooo, ternyata ada demo anggota HTI di depan balaikota. Wah kesempatan menguji kamera pinjeman nih, hehehe.
Karena niatan dari awal adalah berwisata ke Museum Zoologi dan KRB, bukannya nonton orang demo, sambil berjalan santai kami berusaha menemukan pintu masuk ke KRB. Setelah berjalan kaki lumayan jauh, disebabkan oleh kebegoan saya yang selalu salah baca skala peta, akhirnya kami sampai ke Museum Zoologi. Istri saya langsung jongkok di depan tukang teh botol sambil manyun. Capek katanya. Saya cuma bisa meringis.

Museum Zoologi Bogor ternyata benar-benar keren. Saya sebagai museum-mania (tapi cuma jadi anggota pasif milis Sahabat Museum) benar-benar terpuaskan melihat koleksi-koleksi satwanya. Istri saya yang penggemar berat segala hal yang berhubungan dengan kupu-kupu (kecuali ulatnya) juga terkagum-kagum melihat
koleksi kupu-kupu awetan. Saya lebih tertarik pada koleksi binatang-binatang besar, seperti harimau, banteng, badak dll. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah awetan badak terakhir di Jawa Barat (mungkin juga di Indonesia) seberat 2 ton lebih. Sambil terkagum-kagum saya sempat terpikir-pikir, jangan-jangan nanti anak-cucu saya cuma bisa liat binatang-binatang eksotis ini di museum. Hiii, buru-buru saya tepiskan pikiran horor itu. Sayangnya karena ini adalah Indonesia, maka graffiti corat-coret tangan usil bin jahil adalah fitur yang umum ditemui di objek wisata. Tak terkecuali di sini. Heran deh, apa maunya sih ? Oya sebelum pulang saya sempatkan juga menengok kerangka paus biru yang jadi koleksi kebanggaan museum ini. Wuih, besarnya benar-benar beyond description. Pokoke guedhiii .....
Setelah puas di Museum Zoologi, kami menuju KRB. Wah dari luar saja sudah kebayang betapa gempor kaki ini kalo disuruh mengelilingi KRB. Jadi saya dan istri, meskipun kami berdua adalah pecinta berat pohon dan tanaman, tidak menetapkan target yang muluk dalam menjelajahi KRB ini. Sekuatnya saja. Lokasi-lokasi yang kami kunjungi antara lain : Lady Raffles Memorial, kuburan Belanda (yang ini kedoyanan saya, hehehe ...), Taman Teysmann (yang sungguh cantik nian dan menggoda bintang-bintang film India untuk berlama-lama menyanyi sambil joget ngiter-ngiter, hehehe ...), koleksi pakis (termasuk Pakis Naga yang ngetop itu), kolam air mancur yang di sekitarnya banyak dipakai orang pacaran, dan tentu saja objek wisata paling mutakhir dan heboh, yaitu helipad tempat Bush Jr & cs akan mendarat (sori nggak berani ambil foto takut jadi masalah, hihihi).

Setelah capek keliling-keliling (sempet iseng bikin foto polaroid segala) akhirnya kami memutuskan pulang ke Jakarta dengan KRL jam 14.00 (seperti biasa telat). Di kereta, saya memutuskan untuk turun di Stasiun Kota saja untuk disambung dengan bus TransJakarta. Pikiran saya di hari libur weekend seperti ini pasti kosong, lagipula saya ingin ambil foto Stasiun Kota yang terkenal sebagai stasiun tua nan indah itu. Tapi niat cuma tinggal niat. Melihat kesemrawutan stasiun saya sudah hilang selera untuk foto-foto dan melihat preman-preman timer angkot di sekitar stasiun saya tidak berani ambil risiko menghilangkan kamera orang (dan foto-foto kenangan piknik ke Bogor di dalamnya).
Dan perjalanan naik bus Trans Jakarta di hari weekend tentu nyaman bukan ? Salah
besar. Setelah berakrobat untuk sampai ke dalam terminal, kami pun harus berjuang keras masuk ke dalam bus. Wah ini kayak simulasi thawaf di depan Ka'bah aja, batin saya. Toh akhirnya, setelah semua kepusingan, kepegelan dan kesemutan kami sampai juga di rumah kontrakan. Meskipun capek total tapi kami puas dapat menemukan oasis kesegaran di tempat yang tidak begitu jauh dari Jakarta yang gersang. Next target ? Mungkin Kebun Binatang Ragunan. Sekarang saya mau istirahat dulu. Capek bin pegel.

Labels: , ,

About me

  • Buruh pocokan dengan penghasilan pas-pasan dan ketertarikan (yang menjurus pada obsesif) pada internet, sejarah Perang Saudara Amerika, bangunan-bangunan tua (terutama yang sudah tidak terurus), komik, wayang orang, ejaan lama dan barang gratisan.